Analisis Novel 'Jurnal'
- Nov 13, 2023
- 3 min read

Fakta menarik
Novel grafis JURNAL merupakan novel yang terinspirasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Sekali Persitiwa di Banten Selatan.
Latar novel ini bertempat di Surabaya
Penulis novel ini, Redhy Murti. Akrabnya dipanggil Redi, asli kelahiran Surabaya, tepatnya pada tanggal 6 September 1987. Dari tingkat sekolah dasar hingga lulus sarjana di Surabaya. Sekarang melanjutkan kuliah di Yogyakarta.
Karakter
Ipang : Berkeyakinan kuat, optimis, tidak mudah menyerah, dan jujur.
Aku harus bisa mengatasi semua masalah ini… mereka hanyalah tikus yang menggerogoti darah bangsa… mereka telah mengambil segalanya dariku… tapi satu hal yang tidak mungkin mereka merenggutnya… “keyakinanku…” - JURNAL, halaman 57.
Maaf pak, saya tidak bisa!! Saya wartawan!! Mencatat berdasarkan fakta yang ada… saya harus menolak… - JURNAL, halaman 49.
Pak Bowo : Berani berpendapat, rela berkorban demi bangsa dan negara.
Dan ketika sampai pada puncak kekecewaannya, dia lalu menulis kritikan keras hingga membuanya harus hengkang dari negeri ini. - JURNAL, halaman 12
Mungkin kita masih terjajah dalam bentuk baru… tapi… Saya akan maju memperjuangkan rakyat dengan ideologi saya. Ya, saya tak akan pernah takut lagi pada mereka - JURNAL, halaman 41
Pak Supriyadi : Bermuka dua dan otoriter.
Hahaha, pertanyaan yang sangat bagus !!! saya sama sekali tidak terlibat. Anda lihat sendiri tidak ada bukti yang mengarah ke saya dan saat ini saya masih berdiri disini untuk RAKYAT ! ! ! hahaha. - JURNAL, halaman 26
Kamu tahukan saya adalah saingannya di pemilu nanti, ya kita sama sama-sama tahulah. Jadi kamu mau berapa? - JURNAL, halaman 49
Pak Alex : Mudah terpengaruh dan pasrah dengan keadaan.
Sudahlah Pang, kita tidak bisa apa - apa !!! Keluarga saya terancam! Koran ini terancam !!! Saya mohon terima cek ini dan kita turuti apa keinginan Supriyadi! Titik! - JURNAL, halaman 52
Isu Sosial dan Global
Demokrasi yang kacau
Apalagi ini musim kampanye partai… Tak usah diceritakan lagi, betapa gegap gempitanya politik kita menjelang pemilu kepala daerah… Tak usah diterangkan lagi… Betapa pemilu ini berjalan semrawut dan membingungkan… Tak ada sedikitpun keprihatinan akan kenegaraan dan kebangsaan dalam lobi politik mereka.. - JURNAL, halaman 7
Pencitraan politikus
Kisah para politikus yang sibuk dengan pencitraan dirinya. Memang sejak reformasi bergulir, banyak partai-partai politik yang berlomba-lomba membuat mosi tidak percaya terhadap sistem lama. Semua bersaing untuk menghujat! mengkritik! dan menghina! Bahkan orang-orang yang dulu merupakan bagian dari sistem lama itu sendiri berbalik dan mengganti wajah mereka lalu mengencingi sistem yang dulu mereka puja. TANPA RASA MALU, mereka bertingkah seenaknya dan memakai slogan- slogan nilai hanya untuk semakin besarnya kekuasaan mereka. - JURNAL, halaman 8
Kebebasan berpendapat dan berekspresi yang dibatasi
Kebebasan kita, tlah direnggut oleh tirani! - JURNAL, halaman 14
Kesulitan Kondisi Ekonomi
Kemiskinan menjadi masalah klasik masyarakat perkotaan. Karena itu, Cak Bowo memberikan perhatian khusus pada peningkatan ekonomi dan pemberdayaan SDM sebagai langkah untuk mengatasi kemiskinan. - JURNAL, halaman 19
Klaim komunis
Sejak itu, semua partai sosialis dan segala atributnya, juga komunisme, serta apa pun yang berkaitan dengan komunis menjadi momok bagi rakyat Indonesia. Bahkan karya seorang pemikir, budayawan, atau bahkan sastrawan yang dicurigai punya simpati dengan komunis, telah disulap menjadi barang haram di negeri ini. - JURNAL, halaman 39
Pembungkaman media
Didalam ruangan terlihat beberapa rekan dari wartawan, pegawai-pegawai negeri, berkerumun dan diberikan amplop-amplop entah apa isinya… - JURNAL, halaman 29
Patriarki
Dulu anak saya ini tidak saya perbolehkan berurusan dengan politik. Ya, dulu saya kira Wanita terlalu lemah untuk terjun di dunia politik. - JURNAL, halaman 42 - 43
Analisis Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam novel grafis ini merupakan bahasa yang tidak formal. Dapat dilihat dari penggunaan tanda baca yang tidak sesuai, ejaan yang masih tidak sesuai dengan KBBI, dan penggunaan kalimat tidak efektif. Mungkin hal ini bertujuan agar novel yang mengangkut isu yang berat ini dapat dipahami dengan mudah oleh berbagai kalangan pembaca. Berikut adalah beberapa hal yang saya temukan dari novel :
Kalimat tidak efektif. Penggunaan kata berulang “yang” dalam satu kalimat.
Penggunaan titik tiga yang berlebihan dan tidak sesuai tempatnya.
Penggunaan kosakata yang tidak baku
Kosakata Baru
Berikut ini saya lampirkan beberapa kosakata baru dan unik yang saya dapatkan dari novel JURNAL beserta makna yang saya ambil dari KBBI :
Kekuatan tirani : Bentuk pemerintahan negara yang diperintah oleh raja atau penguasa lain yang bertindak sesuka hatinya.
Rakyat proletar : Istilah yang digunakan untuk mengidentifikasikan kelas sosial rendah
Turntable : Alat yang digunakan untuk memutar kaset vynil atau piringan hitam
Wartawan bondrek : Pasukan wartawan yang suka minta suap, padahal (mungkin) mereka bukan wartawan, atau menggunakan profesi wartawan sebagai kedok untuk memeras orang-orang yang mempunyai berita tidak enak kemudian berita itu digunakan sebagai alat pemerasan.
Intuisi : Daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati.



Comments